Akhir 2024 lalu, aku memutuskan touring solo naik motor tua kesayanganku, Honda CB150R yang sudah nemenin dari Jakarta sampai ujung timur Jawa. Rute yang kupilih agak “gila”: Jakarta → Bandung → Tasikmalaya → Cilacap → Purwokerto → Wonosobo → Magelang → Solo → Gunung Lawu → Malang → Surabaya, lalu balik ke Jakarta lewat pantura. Total sekitar 2.200 km, ditempuh dalam 9 hari 8 malam, dengan budget minim dan hanya bekal tenda kecil plus sleeping bag.

Hari ke-5 adalah momen yang paling tak terlupakan. Aku baru saja turun dari Dieng Plateau pagi-pagi sekali, dingin menusuk tulang sampai jaket riding pun terasa tipis. Tujuannya naik ke Cemoro Kandang via jalur pendakian Lawu sisi timur (Cemorosewu). Jalanan mulai menanjak tajam, aspal mulai rusak jadi cor-coran, lalu berubah jadi tanah merah becek karena semalam hujan deras.

Tiba-tiba langit gelap lagi sekitar pukul 14.30. Hujan deras datang tanpa ampun. Aku buru-buru cari tempat berteduh, tapi di lereng Lawu bagian itu jarang rumah warga. Akhirnya nemu sebuah warung kecil kayu di pinggir jalan tanah, hampir roboh, dikelilingi kabut tebal. Pemiliknya, Mbah Joyo, seorang bapak tua berusia sekitar 70-an, sendirian jaga warung sambil nyalain api unggun kecil dari kayu pinus.

Aku masuk basah kuyup, motor diparkir di bawah pohon pinus yang rindang. Mbah Joyo cuma bilang, “Lha kok nekad touring pas musim hujan begini, Nak?” Sambil menyodorkan segelas kopi tubruk panas tanpa diminta. Kopinya pahit banget, hampir nggak ada gula, tapi hangatnya langsung nyebar ke seluruh badan. Aku cerita rencana mau camping di puncak Lawu, tapi Mbah Joyo geleng-geleng kepala.

“Malam ini angin kencang, hujan nggak berhenti. Kalau nekat naik, motor bisa selip di tanjakan lumpur, atau lebih parah, angin nyungsep ke jurang. Nginep sini aja, Nak. Warung ini kecil, tapi aman.”

Akhirnya aku menyerah. Malam itu aku tidur di teras warung, dibungkus selimut tua Mbah Joyo, ditemani suara hujan deras dan angin menderu di antara pohon pinus. Mbah Joyo cerita panjang lebar tentang masa mudanya dulu sering naik motor keliling Jawa Timur sebagai kurir obat tradisional, bahkan pernah nyasar sampai Banyuwangi gara-gara salah ambil jalan di tengah kabut. Dia bilang, “Touring itu bukan soal sampai tujuan secepat mungkin, tapi soal cerita yang kamu bawa pulang.”

Pagi harinya, hujan reda. Kabut masih tebal, tapi langit mulai terang. Mbah Joyo masak nasi liwet sederhana pakai tungku kayu, lauknya telur dadar dan sambal terasi. Sebelum berangkat, dia kasih seikat daun kemangi liar yang katanya bisa obati masuk angin, plus sebotol kecil kopi tubruk kering yang dia buat sendiri. “Bawa ini, kalau kangen rasa malam tadi.”

Aku melanjutkan perjalanan ke puncak Lawu, tapi pemandangan pagi itu beda. Bukan cuma indah karena sunrise di atas lautan awan, tapi karena aku merasa “diselamatkan” oleh orang asing yang bahkan nggak kenal namaku. Malam hujan di lereng Lawu itu mengajarkanku bahwa touring bukan hanya tentang kilometer atau spot foto instagramable, tapi tentang kebaikan tak terduga di tengah perjalanan.

Sampai sekarang, setiap kali nyeduh kopi tubruk pahit di rumah, aku selalu ingat Mbah Joyo dan warung kecil di lereng Lawu. Itu pengalaman touring paling tak terlupakan di Pulau Jawa bagiku—bukan karena tempatnya megah, tapi karena hati manusia yang hangat di tengah dingin malam Jawa.

Kalau kamu punya rencana touring di Jawa, coba sisipkan rute ke lereng-lereng gunung yang jarang dilalui. Siapa tahu, kamu juga dapat cerita yang nggak akan terlupakan seumur hidup. Selamat touring, bro! 🏍️🌄


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *